di suatu hari yang cukup terik, menjelang waktu zuhur. Muncul lah rasa ingin menikmati ayam pedas khas salah satu resto punya artis. Membayangkan cabe cabe berataburan diatas ayam sungguh membuat semangat. Tidak pernah lupa apa yang akan terjadi setelah makan ayam mandi cabe itu. Tapi rindu harus diobati, obatnya pertemuan.
Berangkatlah naik motor, bermodal sejumlah uang untuk beli ayam pake cabe ngga pake nasi. Karena nasi udah masak dirumah. Nanti ke restonya, seusai shalat di masjid. Sholat sudah, keluar masjid matahari terik. Paduan khas panas menyengat dan panas cabe pasti akan mengucurkan semangat menggelora.
Hhhm... Vendor ayam potong di sebelah kiri. Kilasan kilasan masa lalu muncul, teringat dengan 36rban bisa mendapat 6 potong ayam cukup. Enam! Iya enam. Kalo beli, paling dapet dua potong. Beruntunglah kamu yang senang memasak. Saya berubah tujuan, sekarang kita ke tukang sayur. Beli cabe dan lalap. 5000 rupiah, saya bawa pulang cabe dan lalap yang ada di angan.
Jadi kenapa tidak langsung beli ayam? Karena ayam itu perlu segar. Kasian bila diajak beli sayur, menerjang gelombang panas tengah hari. Nanti kebahagiaannya luntur. Dengan penuh kepositivan, percaya diri, dan angan-angan tinggi. Memasuki area parkir vendor ayam. Belum turun dari motor pun sudah disapa. Mengajukan pertanyaan yang menunjukkan kesigapan pelayanan. Sebuah praktik pelayanan prima, bahkan sebelum masuk dalam zona pelayanan. Memahami kebutuhan klian sebelum klien menyampaikan apa yang dia mau. Menakjubkan.
Tampilkan postingan dengan label FOOD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FOOD. Tampilkan semua postingan
Kamis, 28 Maret 2019
Minggu, 05 Agustus 2018
Impian di Rute Pasar Minggu - Parung - Bogor
Berangkat pagi naik motor dari Bogor itu memang menyenangkan, karena saat berangkat pun udara masih segar. Paling telat, saya berangkat jam 5 pagi. Jalanan pun masih relatif sepi di setengah perjalanan. Tapi tantangan selanjutnya itu, ketika pulang. Tidak ada lagi udara sejuk dingin, yang ada sinar mentari yang penuh semangat. bersatu padu dengan tiupan debu-debu berpindah-pindah mengikuti angin.
Ini efek teknologi, jadi saya disarankan Google Maps untuk mengambil jalan via Jalan Raya parung. Karena menurut dia jalan ini lebih cepat. Memang terkadang teknologi itu sok tahu, memangnya dipikir jalanan itu kita saja yang make. Memang ngga ada macet? Ya tapi ternyata memang dia itu benar. Relatif lebih cepat. Relatif loh, atau rasa-rasanyalebih cepat.
Mulai pertama kali mencoba, rute work to home via Raya Parung jadi idola. Melintasi wilayah yang cukup maju ekonominya, jadi banyak tempat makan yang mumpuni. Sampai nanti tiba saatnya menyusuri jalan lurus tak berkesudahan di jalan Raya Parung.
Sebagai penikmat batagor, saya mengharapkan ada vendor vendor batagor yang bereputasi baik di sepanjang rute ini. Benar ada, dengan tittle "bandung" yang menjanjikan. Ada dua bahkan. hingga berkali kali purnama terlewati, ada saja yang menghentikan saya bertemu sang pujaan rasa. Hingga hari yang ditunggu pun tiba, di tengah mentari yang kembali semangat.
Tanpa dihalangi hujan atua mendung memberi rasa gelisah, hanya ada saya dengan motor kesayangan dan ratusan meter lagi gerobak batagor nampak. Tepat di depan pintu keluar pom bensin. Walau rasa hangat siang bukan teman terbaik menikmati sajian yang dinanti ini, kecuali dilengkapi bayang bayang pohon yang menutupi.
Ternyata ini batagor seperti batagor biasa kebanyakan. Hanya tepung dan bumbu di dalam kulit pangsit. Tapi batagor ini tidak sendiri, ada tahu dan otak otak. Otak-otak memberikan sensai rasa amis amis ikan, dan tahu memberikan kesan baik. Kesan yang serasa bila ini makanan yang layak. Karena tahu makanan sehat. Sebuah impian yang kecil, yang diijinkan untuk terwujud. Alhamdulillah.
Langganan:
Postingan (Atom)

