Laman

Monday, May 19, 2014

Selamat Jalan Akli Fairuz, Pemain PERSIRAJA

Akli Fairuz pemain PERSIRAJA berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa setelah mengalami benturan keras dengan kiper PSAP Sigli  Agus Rohman   di laga terakhirnya kontra PSAP Sigli. Setelah dirawat akhirnya Akli menghembuskan nafas terakhirnya. Semoga kasus ini bisa diusut tuntas dan tidak ada lagi kejadian seperti ini lagi untuk kedepannya.

Selamat jalan Akli... terimakasih telah menghidupkan sepak bola Indonesia



Thursday, April 3, 2014

Jangan Lagi Sebut Cina/China, Tapi Tiongkok




Ini namanya efek kurang gaul sama presiden. Yang ternyata sudah menandatangani Keppres No.12/2014 mengenai penyebutan warga Tiongkok (sebelumnya disebut China). Dan juga mencabut keputusan yang terkait penyebutan nama Tiongkok. Yang berarti, untuk selanjutnya tidak ada lagi penyebutan dengan nama China/cina. Tapi disebut Tiong Hoa atau Tiongkok di Indonesia. Pantas saja dosen saya selalu menyebutnya Tiongkok ketika mengajar.

Baca - caca sedikit di Wikipedia, ternyata penyebutan Tiongkok ataupun Tionghoa sudah diprakarsai oleh Presiden soekarno selaku presiden pertama. Yang mana sebelumnya disebut Cina saat masa pemerintahan Jepang. Tapi ketika pergantian Presiden menjadi Presiden Soeharto, penyebutan Cina digunakan kembali. Dan ada pelarangan penggunaan nama Tionghoa ataupun Tiongkok. Karena saat itu sedang terjadi pergolakan politik. Penggunaan nama Cina/China terus berlanjut hingga Maret 2014, Setelah Presiden SBY mencabut keputusan lama tersebut.

Nama Cina/China berasal dari nama Dinasti Chin, dinasti yang pertama kali menyatukan daratan Tiongkok. Hingga pada tahun 1850, di Cina terjadi pemberontakan 'Taiping' (1850) dan Boxer (1900) yang merintis revolusi pada tahun 1913. Ini mengakibatkan sikap antipati yang besar kepadabangsa Barat, sehingga dengan meningkatnya harga diri bangsa ini, kemudian mereka menolak sebutan China dan kembali pada premordialisme kebangsaan dan menyebut negeri mereka sebagai 'Chung-Kuo' atau 'Negara Tengah'. (Di Inonesia, Chung-Kuo menjadi Tiongkok)

Berarti untuk selanjutnya tidak ada lagi penyebutan Cina/China, karena itu bisa berarti sebuah penghinaan untuk mereka. Tapi kita sebut Tionkok atau Tionghoa teman orang Indonesia sejak berabad-abad silam. Jangan ada lagi rasis, kita semua tinggal di negara yang sama dan patuh pada peraturan yang sama.

Wednesday, February 12, 2014

Trip to Darajat Garut

Kawasan Darajat
[summary here}

kami mengawali perjalanan jam6 pagi dari jakarta. Melalui tol cikampek, kemudian menyambung ke tol Purbaleunyi hinggi titik terjauhnya. Perjalanan dalam tol lancar sekali, mungkin karena masih pagi. Perjalanan melambat setelah melawati berapa kilometer keluar dari pintu tol. Ada perbaikan jalan, yang menyebabkan ada sedikit buka tutup. Sehingga mau tidak mau kami harus bersabar.

Google maps tidak bisa berbuat banyak, menggunakan keyword "kawah darajat" google akan menampilkan direksi yang salah. Terpaksa kami harus bertanya kepada warga sekitar.[dari jalur jalur selatan, kita akan mengambil arah kiti. mengarah ke kawasan garut. kemudian kita akan mengambil jalur kembali, yang ternyata adalah jalan buntu diakhiri dengan pembangkit listrik tenaga panas bumi yang dikelola Indonesia Power. Dan disitulah kawasan darajat berada]

Saat memasuki jalan samarang, kami disuguhi terminal bayangan yang cukup membuat perjalanan tersendat. Awalnya kami belum tahu apa yang akan kami nikmati di kawasan tersebut. Masuk ke jalan samarang, kami dibagikan pamflet waterboom lengkap dengan penginapan dan segala fasilitasnya. Mulai memasuki jalan pegunungan, menanjak dan berkelok-kelok. Kami disuhugi hamparan ladang kentang. Sepertinya komoditi utama daerah ini adalah kentang. Ada beberapa waterboom yang kami temui. Yang ternyata waterboom ini menggunakan air panas yang berasal dari panas panas bumi yang ada di kawasan ini.

Masuk ke sebuah waterboom, kami berinisiasi untuk mencari penginapan lebih dahulu. Sayng sekali, di musim libur seperti ini penginapan pun penuh. Untungnya ada calo vila yang mencari peruntungan disana. Kami diajak ke penginapan yang mungkin bisa ditempati. Kami diajak ke sebuah penginapan yang memiliki sebuah waterboom kecil, tapi kurang terawat. Hanya panas alami yang bisa diandalkan. Penuh, hanya ada sebuah kamar dengan rate yang terbilang mahal dengan fasilitas seprti itu. Nilai lebihnya, di penginapan ini ari di kamar mandi pun air panas. Jadi tak perlu khawatir dengan udara dingin yang sudah kami rasakan semenjak masuk ke kawasan ini.

Di penginapan sebelah, kami ditawari kamar paling besar. Berisikan sebuah dipan, dan ada televisi. Dengan rate 450rb per malam, kurang memuaskan karena kamar mandi harus sharing dengan kamar lain. Kamar mandinya di dalam, tapi dihubungkan dengan 2 pintu. Dan keadaan pintu atau pengunci dari kamar mandi ini kurang memadai. Sudah termasuk extra bed, kamar berukuran sekitar 2,5m x 3m ini mampu memberikan rasa hangat karena lubang udara yang sedikit.

mengisi waktu di malam hari, kami mmeutar film dengan dvd portable yang kami bawa. Menonton sebuah film animasi yang saya lupa apa filmnya.

Dari celah dijendela, gelapnya langit dihiasi sebuah cahaya kuning kejinggaan. Memberikan sebuah energi pagi, sebuah refleksi keindahan yang hanya bisa dinikmati dengan perjuangan waktu. Bermula dari sedikit, hingga berangsur mengganti langit malam menjadi terang sejuk, udara pagi. Matahari terbit darajat, sudah lama sekali sejak matahari terbit terakhir kali. Mentari yang baru saja memberikan sinyal bila ia akan datang. Memutar perjalanan waktu. Perlahan hitamnya langit digerus gradasi warna ungu tanpa suara membisu.

Kami sekeluarga sudah bergantian untuk shalat shubuh, segera keluar dan mengabadikan moment tersebut dalam sebuah gambar. Hawa dingin segar yang jarang dirasakan di Jakarta, memasukkan sebanyak-banyaknya udara kedalam paru-paru seakaa-akan itulah udara bersih terakhir.

Rencana selanjutnya, kami akan ke kawah darajat. Lokasi dimana air panas yang telah kami nikmati di hari sebelumnya berasal. Panas bumi yang memberikan energi pagi kehidupan, melalui pendidikan dan pengalaman energi bumi itu diubah menjadi supply listrik menghidupi sisi-sisi vital kehidupan. Menerangi kehidupan untuk selalu bisa bersujud pada Yang Maha Kuasa.

Disisi jalan, tepat dihadapan kami hamparan ladang kentang cerah disinari cahaya keemasan penuh kemilau dari mentari. Awan-awan seakan menyingkir ketika sang surya menunjukkan kegagahannya. Bagai permadani, kabut di kaki gunung menghiasi kedatangan Cahaya energi pemberi kehidupan di muka bumi.

Kami dihampiri dua penjaja jaket kulit khas garut, ketika kami sedang menikmati ladang kentang yang menjulan disepanjang lembah. Jaket asli kerajian garut ini memiliki motif yang hampir sama semua. Sebuah ciri khas dari sebuah kerajinan, dimana minimnya kreativitas sedikit menghambat perkembangan. Kami ditawari jaket kulit domba, juga kuliat sapi. Mereka membuka harga di 500rb per potong jaket. Setelah tawar menawar yang menyegarkan(karena didataran tinggi) akhirnya sepakat 550rb untuk sebuah jaket kulit domba warna hitam, dan jaket kulit sapi berwarna coklat.

Selanjutnya kami menuju ke lokasi wisata kawah, menuju kesana harus dengan seizin pemilik lahan yang dalam hal ini adalah perhutani. Berada di kawasan Industri panas bumi, kami diantar oleh joki yang tidak lain seorang bapak yang menunjukkan kami tempat menginap. Dengan biaya 100rb sekali antar, kami dibawa ke kawasan kawah.

Mulai memasuki areal industri, di kanan kiri terdapat papan peringatan akan bahaya lebah. Wah benar-besar serasa masuk ke dalam hutan. Sepanjang jalan , di sisinya terdapat sebuah pipa gas yang mengantarkan gas ke(mungkin) ke turbin untuk dikonversi menjadi engergi listrik. Desisan bertekanan tinggi yang menyebabkan pipa bisa terasa panas terdengar sepanjang jalan.

Dari kejauhan asap dari kawah sudah membumbung tinggi, menghangatkan langit pagi yang dingin. Kami parkir di satu satunya tempat parkir. Hanya bertandakan sebuah gapura kecil, dan ada sebuah bale untuk duduk . Mungkin petugas perhutani yang haru menjaga tempat ini. Karena kawah dilarang dikunjungi bila konsentrasi gas yang beracun sedang tinggi.

Tidak jauh dari pintu masuk, pakis-pakir kecil menghiasi jalan kami menuju kawah. Serasa di Jurassic park haha. Sekitar 30m kawah sudah terlihat, kawah pertama yang kami kunjungi ada di sebelah kanan jalan. mendekati yang tidak dipagar ini, kami menaikit tangga sedikit. Tepat dihadapan kami, dimana asap yang mengepul ke langit berasal. Tanaman-tanaman diarah asap membungbung, tampak hangus seperti terbakar.

Berpindah ke kawah lainnya, kali ini dipagar. Mungkin terlalu berbahaya karena panas. Kawah tersebut juga sengaja dialiri air gunung, dan airnya pun mengalirkan isi bumi yang di muntahkan kawah. Tepat disebelah jalan, ada pemandian kecil, lebih cocok untuk berwudhu karena posisi pipa bambu yang rendah.

Kami menyempatkan mengambil beberapa sampah yang ditinggalkan pengunjung yang kurang paham pentingnya menjaga kelestarian alam. Banyak sekali sampah yang ditinggalkan. Ironis memang, ketika kita semua bangga akan kekayaan alam Indonesia, tapi tidak sedikit yang seenaknya meninggalkan sampah. Mengira bila tempat ini adalah sebuah taman pemerintah yang akan disapu setiap hari.

Kami membawa beberapa kantung sampah, dan membuangnya di tempat sampah yang sudah disediakan di pintu masuk. Kemudian kami kembali ke penginapan, dan check out menuju curug orok, yang letaknya agak jauh. sekitar 1jam perjalanan.

sekitar 1,5 jam perjalanan, melewati kebun teh yang sepi. Kami melihat papan nama kecil yang menunjukkan curug darajat. Dari jalan masuk sekitar 200m. jalan bebatuan yang kurang layak dilalui kendaraan bermotor. Sekedar bebatuan yang diletakkan untuk memadatkan tanah jalanan.

Di pintu masuk, kami menemui sebuah pos penjagaan. Disana sudah terdengar gemuruh air yang jatuh dari ketinggian. Lokasi curug ini berada di sebuah tebing, letaknya lebih rendah dari kebun teh.

Tampak tempat ini sangat sepi, ada sebuah peternakan di dekat tempat parkir dan pos polisi. Berdekatan dengan tempat parkir, ada beberapa cottage yang berjajar manis, berwarna coklat khas warna kayu. Tiap cottage tersebut terdiri dari dua lantai. Dan kesemuanya menghadap kearah curuh. Beberapa warung tampak berjajar, tapi hanya ada satu warung yang buka. Tepat sebelum kami turun ke curug kami berkunjung ke sebuah rumah makan yang cukup besar. Ada yang biasa, pake meja dan kursi ada juga yang lesehan. Berdiri tepat dipinggir tebing yang curam diselingi banyak pepohonan. Segarnya udara, jangan ditanya.

Turun ke bawah, sekitar 100m, sebuah kolam renang seadanya menjamu setelah menyusuri jalan menurun. Kalau dilihat dari atas, air curug ini kotor berwarna kecoklatan. Angin yang dihasilkan dari jatuhnya air cukup kencang.

Ternyata kalau diperhatikan, curug ini berasal dari sungai kecil di kebuh teh sana. Airnya sudah kotor sejak dari atas. Di sekitar curug pun banyak sampah sisa peninggalan turis.

Thursday, September 19, 2013

Sawarna Beach, Family trip

 I made a video trip at Sawarna Banten. This video made with canon A3400 pocket camera. And Dicapac Waterproofcase for underwater shot.