Laman

Friday, August 29, 2014

Trip to Kuningan ( Air Panas Kaki gunung ciremai, Taman Air Sangkan, Curug Sidomba)

Berangkat dari jakarta sekitar pukul tujuh, kami melalui tol cikampek. Semua komplit, kami berenam. Melintasi jalur pantura, hanya sedikit hambatan ketika kami keluar cikampek. Sedikit memutar jalan, mungkin karena pengalihan arus selama lebaran. Di hari H+7 seperti ini menjauh dari Jakarta amat menyenangkan. Sekitar 4 jam, kami istriahat di Masjid Raya Cilimus makan dan shalat. Luas memang, dengan bangunan yang cukup besar, dan halaman yang sangat luas menunjukkan keagungan Masjid ini. Dinilai sebagai masjid raya, agaknya agak sedikit kurang karena kebersihannya ternyata kurang terjaga. Khususnya di areal toiletnya. Tapi tidak mengurangi prosesi kekhusysukan ibadah. Masjid ini ternyata satu komplek dengan kantor lurah Cilimus. Tepat di sebrangnya ada pasar yang cukup luas, sepertinya menjadi pusat kegiatan warga disini.

Menara masjid Raya Cilimus


Sebelum menuju ke Cilimus, kami melalui tol pendek yang menyambungkan Cirebon dengan kuningan. Sejak masuk tol, pandagan mengerikan sudah disajikan tol ini. Antrian kendaraan berderet hingga cukup panjang. Sebenarnya pemandangan sewarna sudah kami nikmati sejak melintasi pantura. Kami hanya berharap para pemudik itu segera bosan mengantri, dan besok segera pulang kerumah masing masing.

Dalam perjalan kami mendapati antrian yang tidak begitu panjang. Ini karena ada singa-singa yang dipanggul berjajar rapi berwarna-warni. Menghibur semua yang melihatnya, singa singa itu dipanggul empat orang dan ditunggangi  bocah bocah. Ibu saya menuturkan, ini tradisi di daerah ini dalam rangka syukuran karena sudah diberikan rahmat untuk beridul fitri. Seperti yang keluarga kami lakukan, yaitu sedekah kopi niatnya untuk berkumpul dan bersyukur kepada Allah SWT.


Sekitar satu jam dari Masjid Raya Cilimus kami memasuki kuningan. Bukan kotanya, kami menuju ke kaki gunung ciremai untuk menikmati air panas alami. Pemandian air panas inilokasinya tidak begitu jauh dari jalur utama. Dalam perjalanan, sebuah penanda jalan menunjukkan jalan menuju ke curug si domba. Baiklah, tujuan selanjutnya sudah ditentukan. Menuju ke pemandian air panas yang ternyata 24 jam ini  memiliki tempat parkir yang terpisah. Kami akhirnya sampai di tempat pemandian air panas yang memiliki dua pilihan ini. Ada kolam renang dengan perosotan naganya dan kamar private. Sayangnya pengunjung tidak bisas memasukinya sekaligus karena pintu masuknya dipisahkan. Dari luar bangunan tempat pemandian ini berjajar beberapa ruko yang menjajakn makanan rignan, pakaian hingga rumah makan sederhana.

Dari pintu masuk, nampak jelas penampakan kolam renang air panas yang saat itu sangat lah ramai. Sekilas tidak menyisakan ruang untuk bergerak. Akhirnya kami memilih kamar private. Dengan biaya 10 ribu perorang kami masuk ke areal kamar mandi air panas. Kami meuju ke ruang tunggu untuk bersiap sejenak sebelum masuk kamar. Di dalam kamar mandi yang terlihat kosong dengan dua buah keran air dibawahnya, ternyata bagian bawah ruang ini difungsikan sebagai kolam yang berukuran sekitar 175x100cm ini bisa dipenuhi hingga kedalaman setinggi betis laki-laki dewasa. Sambil menunggu penuh, kami berempat (saya dan tiga orang adik saya) mulai berendam. Keran yang satu mengeluarkan air panas dan satunya air dingin. Air panas disini merupakan air panas alami karena panas bumi yang tidak mengandung belerang. Kamar ini memiliki penerangan seadanya yang dibantu cahaya dari luar yang masuk dari sela sela ventilasi. Kolamnya berbentuk kotak, benar benar kotak. Jadi tidak ada sisi yang bisa digunakan untuk bersandar secara ergonomis.

Tidak lama kami rasa, bel berbunyi tanda usainya sesi berendam kami. Baiklah, ini adalah akhir dari wisata air panas kami. Mungkin setiap sesinya sekitar 15-20 menit saja. Kami berbenah dan keluar dari area pemandian. Kami melihat jam, dan benar benar masih banyak waktu yang harus kami habiskan. Lagipula kami berniat menginap bila memang tidak keburu pulang. Tapi menimbang para pemudik yang masih senang menikmati antrian jalan kami memilih untuk bermalam disini.

Teringat dengan papan penunjuk jalan tadi, ada wisata curug . Mengarah ke kaki gunung ciremai kami melewati areal persawahan yang mulai berganti perlahan menjadi area properti setelah bertanya pada warga sekitar. Masuk dari jalur utama sekitar tiga kilometer, kami menelusuri jalan dan mengambil arah ke kiri. ternyata kami menuju jalur yang salah yang mempertemukan kami dengan gedung perjanjian linggarjati. akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke jalan Utama untuk mencari penunjuk jalan yang sebelumnya sempat kami temui. Dalam perjalan kami mencari penunjuk jalan kami disambut dengan sebuah water slide yang cukup tinggi tepat dipinggir jalan. Sebuah harapan lain setelah kami kecewa menemukan sebuah waterboom yang ternyata masih dalam tahap pembangunan.


Pemandangan dari tempat parkir Linggarjati



Taman air Sangkan  memiliki lokasi yang terbilang kecil bila dibandingkan dengan waterpark lain yang pernah kami datangi. Dekorasi yang cukup sederhana dan hanya terkonsentrasi di sebuah kolam yang airnya warna hijau. ternyata kolam berari hijau ini adalah kolam ombak. Selain itu, wahana ini memiliki racing waterslide menggunakan alas khusus yang bisa didapat pengunjung gratis. Water slide lainnya menggunakan Tube yang bisa didapa dengan menyewa seharga Rp 25.000.  Areal waterpark ini seperti waterpark lainnya bisa dinikmati dengan mengikuti kolam arus. Di sisi lain ada sebuah kolam renang olympic mini. Saat kami datang waktu itu pukul tiga sore dan waterpark akan tutup pada pukul lima. Dengan harga tiket masuk sekitar Rp 30.000 per orang (saya lupa harga pastinya)  kami mendapat produk promosi sejumlah tiket berupa minuman teh soda.


Kami tidak menyangka ternyata kolam ombak beroperasi, semua pengunjung terkonsentrasi di kolam ombak yang memiliki kedalaman sekitar 175cm ini paling dalam. Seperti ada yang berbeda dengan kolam ombak lain yang pernah kami nikmati, oh ya ternyat saat ombak menyala kami tidak diiringi musik.


Salah satu keistimewaan waterpark ini, kita bisa menikmati wahana air sambil menikmati pemandangan megah dari gunung ciremai. Sebuah gunung yang cukup mencolok bila dibandingkan struktur geografis disekitarnya. Semakin sore, gunung ciremai mulai mengenakan cincin awan yang ada di puncaknya. Menambah kesan megah seaakan gunung ciremai menembus awan memperlihatkan dominasinya diwilayah itu.




Usai dari waterpark, kami mencari penginapan disekitar pemandian air panas. Di lokasi tersebut terdapat beberapa hotel yang tampak murah. Kami tergiru dengan penginapan dengan judul losmen. Seharaga 150rb per malam ditambah satu bed seharaga Rp 30.000rb kami mendapat kamar yang cukup luas dengan ranjang kingsize. Ditemani tv kabel khas daerah yang jauh dari pusat kota besar.

Di malam hari kawasan tersebut terbilang sepi karena memang hari itu adalah hari senin dan kegiatan ekonomi nasional mulai bergulir kembali.

Keesokan paginya, kami berangkat cukup pagi menuju curug sidomba. Mengikuti penunjuk jalan yang amat jelas, kami mencapai lokasi sekitar pukul tujuh pagi. Ternyata mereka belum buka, baru buka jam delapan. Terpaksa kami memutar dan mencari sarapan dulu sambil menikmati udara pagi di kuningan. Menuju ke lokasi linggarjati, kami berhenti untuk sarapan di sebuah warung makan nasi uduk betawi tepat di depan lapangan desa. Agak lucu sebenarnya, jauh jauh kami kesini, kami disuguhi kembali dengan sajian khas daerah kami sendiri.


Jam8 tepat kami sudah sampai lagi di lokasi curug sidomba. Masih sepi sekali. Area wisata ini sangat jelas dikelola dengan sangat baik. Mulai dari infrastruktur hingga penunjuk jalan dari jalur utama. Jalan menurun menyambaut kami setelah kami membayar retribusi tiket. Sebuah kolam renang yang masih tutup dan sebuah masjid besar menyambut kami. Sebuah gedung serbaguna dan areal berkemah ada di papan penunjuk jalan. Melihat gerbang menuju curug masih ditutup, kami memutuskan jalan jalan sejenak. Areal wisata Curug si domba di dominasi area berkemah yang datar. Dibuat bertingkat karena terletak di lokasi yang miring. Tempat ini sangat pas untuk membuat acara outbond dan sebagainya yang memerlukan areal lapangan yang luas. Dilengkapi  taman bermain anak yang cukup luas dan koleksi hewan yang bisa dinikmati pengunjung.
 



kami sempatkan befoto pada monumen pancasila dan pramuka sambil menunggu. Kami segera masuk ke daerah curug setelah gerbang dibuka. Dari gerbang, anak tangga yang cukup banyak menyambut kami. Kolam kolam berisi ikan KOI kami jumpai saat kami sudah mencapai bawah. Kolam ini terbuat dari aliran sungai yang dibendung. Dijaga dengan pagar sehingga tidak bisa dimanfaatkan pengunjung untuk mandi. Agaknya curug ini tidak sesuai harapan kami, curug yang ternyata kecil ini dibendung sedemikian rupa sehingga kesan alami hanya tepat di air yang berjatuhan, selebihnya sudah dibangun menjadi tempat wisata yang cukup nyaman untuk sekedar menikmati suasana tanpa menikmati segarnya air curug.










Setelah puas dengan curug ini, kami kembali ke jakarta. Sebelumnya kami menuju cirebon untuk mencari batik. Satu jam perjalanan kami mencapai cirebon tepatnya menuju batik Trusmi. Mengandalkan google maps dan tanya maps. Selesai berbelanja kami menuju Jakarta, melalui jalur pantura seperti saat kami berngkat. Ternyata, para pemudik masih enggan meninggalkan pantura. Selepas pintu TOL, kami sudah bergabung dengan arus balik menuju Jakarta. Dari cirebon kami jalan Jam dua, dan akhirnya sampai dirumah setelah melewati jalan lurus pantura ditambah isttirahat satu jam  pada pukul 4 pagi. Mungkin saya belum pernah merasakan mudik, tapi kalo merasakan "balik" saya kira itu sudah termasuk.





Monday, May 19, 2014

Selamat Jalan Akli Fairuz, Pemain PERSIRAJA

Akli Fairuz pemain PERSIRAJA berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa setelah mengalami benturan keras dengan kiper PSAP Sigli  Agus Rohman   di laga terakhirnya kontra PSAP Sigli. Setelah dirawat akhirnya Akli menghembuskan nafas terakhirnya. Semoga kasus ini bisa diusut tuntas dan tidak ada lagi kejadian seperti ini lagi untuk kedepannya.

Selamat jalan Akli... terimakasih telah menghidupkan sepak bola Indonesia



Thursday, April 3, 2014

Jangan Lagi Sebut Cina/China, Tapi Tiongkok




Ini namanya efek kurang gaul sama presiden. Yang ternyata sudah menandatangani Keppres No.12/2014 mengenai penyebutan warga Tiongkok (sebelumnya disebut China). Dan juga mencabut keputusan yang terkait penyebutan nama Tiongkok. Yang berarti, untuk selanjutnya tidak ada lagi penyebutan dengan nama China/cina. Tapi disebut Tiong Hoa atau Tiongkok di Indonesia. Pantas saja dosen saya selalu menyebutnya Tiongkok ketika mengajar.

Baca - caca sedikit di Wikipedia, ternyata penyebutan Tiongkok ataupun Tionghoa sudah diprakarsai oleh Presiden soekarno selaku presiden pertama. Yang mana sebelumnya disebut Cina saat masa pemerintahan Jepang. Tapi ketika pergantian Presiden menjadi Presiden Soeharto, penyebutan Cina digunakan kembali. Dan ada pelarangan penggunaan nama Tionghoa ataupun Tiongkok. Karena saat itu sedang terjadi pergolakan politik. Penggunaan nama Cina/China terus berlanjut hingga Maret 2014, Setelah Presiden SBY mencabut keputusan lama tersebut.

Nama Cina/China berasal dari nama Dinasti Chin, dinasti yang pertama kali menyatukan daratan Tiongkok. Hingga pada tahun 1850, di Cina terjadi pemberontakan 'Taiping' (1850) dan Boxer (1900) yang merintis revolusi pada tahun 1913. Ini mengakibatkan sikap antipati yang besar kepadabangsa Barat, sehingga dengan meningkatnya harga diri bangsa ini, kemudian mereka menolak sebutan China dan kembali pada premordialisme kebangsaan dan menyebut negeri mereka sebagai 'Chung-Kuo' atau 'Negara Tengah'. (Di Inonesia, Chung-Kuo menjadi Tiongkok)

Berarti untuk selanjutnya tidak ada lagi penyebutan Cina/China, karena itu bisa berarti sebuah penghinaan untuk mereka. Tapi kita sebut Tionkok atau Tionghoa teman orang Indonesia sejak berabad-abad silam. Jangan ada lagi rasis, kita semua tinggal di negara yang sama dan patuh pada peraturan yang sama.